Asa: harapan yang tetap menyala
Asa adalah harapan atau keinginan yang kuat akan sesuatu yang diharapkan terwujud; dalam bahasa sastra ia sering berpasangan dengan cita.
Asa adalah kata yang jarang dipakai di percakapan tetapi akrab di puisi, lagu, dan judul. Kata ini lebih sastrawi daripada harapan, tetapi maknanya kurang lebih sama. Ia berasal dari bahasa Sanskerta *ฤลฤ* yang berarti keinginan, lalu menetap dalam bahasa Melayu.
- Harapan atau keinginan. *Asanya untuk kuliah di luar negeri belum padam.*
- Ungkapan 'putus asa'. *Jangan putus asa meski gagal tiga kali.*
- Kekuatan batin untuk terus berusaha. *Mereka menyimpan asa di tengah bencana.*
Bentuk dan gabungan
| Bentuk | Kata | Arti |
|---|---|---|
| Dasar | asa | harapan |
| Gabungan | putus asa | kehilangan harapan |
| Gabungan | berputus asa | dalam keadaan tanpa harapan |
| Gabungan | asa dan cita | harapan dan cita-cita |
| Sinonim | harapan | kata yang lebih umum dan netral |
Asa dalam kalimat
- Di tengah gelap, masih ada asa untuk pulang.Gaya sastra; cocok untuk lagu atau puisi.
- Dia putus asa setelah ditolak berkali-kali.Ungkapan baku dan umum.
- Kita tidak boleh kehilangan asa.Ajakan; nadanya menyemangati.
Asa jarang berimbuhan
Perhatikan bahwa *asa* tidak dipakai di banyak bentuk berimbuhan. Jarang ada verba dari asa; yang lazim dipakai adalah *mengharapkan*, turunan dari harapan. Karena itu asa lebih sering menjadi kata benda yang berdiri sendiri atau berpasangan dengan cita seperti dalam *asa dan cita*. Dalam tabel di atas, gabungan *putus asa* lazim ditulis terpisah, sedangkan *berputus asa* dipakai pada ragam yang lebih formal.
Apa bedanya asa dan harapan?
Asa lebih puitis dan jarang dipakai di percakapan; harapan lebih umum dan netral.
Bagaimana menulis putus asa?
Dua kata terpisah: putus asa. Bukan 'putusasa'.