Duga: menyangka tanpa bukti yang pasti
Duga berarti menyangka atau memperkirakan sesuatu tanpa bukti yang pasti. Dari kata ini lahir menduga, dugaan, dan diduga.
Duga adalah kata dasar untuk perkiraan yang belum pasti. Dalam berita, bentuk diduga sangat penting karena menandakan bahwa suatu hal masih berupa perkiraan, bukan fakta yang terbukti. Duga mirip tebak, tetapi duga lebih berhati-hati dan bernada resmi.
- Menyangka (verba). *Aku menduga hujan akan turun sore ini.*
- Perkiraan (nomina, lewat dugaan). *Dugaannya ternyata benar.*
- Terkait kemungkinan (diduga). *Pelaku diduga masih berada di kota.*
Bentuk kata dan turunan
| Bentuk | Pembentukan | Arti |
|---|---|---|
| duga | kata dasar | menyangka |
| menduga | me- + duga | memperkirakan |
| dugaan | duga + -an | perkiraan |
| diduga | di- + duga | dianggap mungkin |
| terduga | ter- + duga | orang yang disangka |
Contoh dalam kalimat
- Para ahli menduga banjir akan surut besok.Menduga cocok untuk perkiraan yang masuk akal.
- Dugaan itu belum didukung bukti.Dugaan adalah perkiraan sebelum ada bukti.
- Mereka diduga terlibat dalam kecelakaan itu.Diduga dipakai agar tidak menuduh sebelum terbukti.
Diduga dan asas praduga tak bersalah
Dalam laporan hukum, wartawan memakai *diduga* untuk menjaga asas praduga tak bersalah. Artinya, seseorang tidak dianggap bersalah sebelum pengadilan memutuskan. Karena itu, *diduga mencuri* bukan berarti *mencuri*. Bahasa memberi ruang bagi kehati-hatian. Anak-anak pun bisa belajar dari sini bahwa kata yang kita pilih memengaruhi cara orang lain memandang suatu peristiwa. Ingat juga bahwa *menduga* tidak sama dengan *menuduh*, karena menuduh langsung menyalahkan.
Apa beda menduga dan menuduh?
Menduga berarti memperkirakan tanpa kepastian, sedangkan menuduh berarti menyalahkan seseorang.
Mengapa berita memakai kata diduga?
Untuk menandai bahwa hal itu belum terbukti dan menghormati asas praduga tak bersalah.